Pak Nur: Seni Jalanan dan Sikap

pak-nur.jpgpak-nur-1.jpg

Danuri, seseorang yang akrab dipanggil Pak Nur, pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu layaknya petapa yang tersesat di antara ribuan dinding beton dan debu jalanan. Tak ketinggalan juga pohon-pohon yang berbaris – walau hanya beberapa – yang layu disirami asap kendaraan, yang menemaninya tinggal di tengah peradaban tersebut. Namun, hidup di jalanan tak membuat dirinya menjadi layu. Hari-hari di saat usianya semakin senja, diisi olehnya dengan berkarya di jalanan. Dalam berkaryanya pun, ia jauh dari suatu kenyamanan. Tak ada sedikitpun bantuan dana dari orang lain, atau bahkan dinas pendidikan dan kebudayaan – walaupun karya-karyanya sangat mendidik. Ia berkarya dari hasil memulungnya sehari-hari.

Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, saat Pak Nur muncul ke permukaan media dan dinobatkan sebagai “The Real Street Artist”, tak lama muncul Peraturan Pemerintah tentang larangan mengotori kota dengan vandalisme. Setiap visual yang ada di jalanan, tak peduli jika karya bagus sekalipun, pasti dihapus oleh Satpol PP dan petugas lainnya dengan cat abu-abu dan asal ketutup – asalkan ketutup coretannya, pasti atasan senang. Paling hanya iklan provider handpone yang awet, karena sudah bayar pajak yang sangat “UUD”. Jakarta seketika menjadi kelabu dan tak bermakna. Namun semangat berkaryanya tak pernah menurun, ia tetap lanjut dengan konsistensinya.

Bertahan hidup di jalanan adalah hal yang lebih menantang, dibanding larangan berkarya dari Pemerintah. Jika karyanya dihapus, ia dapat membuat lagi di tempat lain atau tempat yang sama. Namun, jika larangan tersebut bertujuan untuk mengusirnya dari tempat tinggalnya di kolong jembatan, rasanya sulit untuk mencari tempat tinggal baru. Apalagi jika dilihat dari perspektif kehidupan jalanan.

Berhadapan dengan Satpol PP adalah hal yang biasa, yang dihadapi oleh kehidupan jalanan. Tapi ada hal yang cukup memprihatinkan dari curahan hatinya saat diancam akan diusir dari tempat tinggalnya. Pak Nur yang hidup di jalanan, jauh dari atap rumah dan tak pernah absen dari dinginnya malam, selalu berusaha untuk santun terhadap siapapun yang dihadapinya. Tapi tidak dengan petugas yang mengancamnya dengan penuh dialek jalanan yang jauh dari santun. Si Petugas yang arogan dan tak kenal salam sapa, hanya dibalas oleh Pak Nur dengan senyuman.

Aktifitas berkarya Pak Nur yang penuh halang rintang dan kualitas karyanya yang mendidik sekaligus menghibur – rasanya patut dikategorikan ke dalam ibadah duniawi. Menjaga keamanan pun juga termasuk perbuatan ibadah, jika dilakukan lebih beradab. Jika tidak, mereka hanya menjadi pesuruh – yang hanya patuh di bawah perintah para Komandan.

Penulis: Joko Prastiyo (editor)

Sumber dan Referensi:

Kvlt Magazine

ISAD (Indonesian Street Art Database)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s