[BEDAH LAGU] SWAMI – BONGKAR (1989)

Iwan Fals Memakai Peci Saat Konser Kemanusiaan di Lebak Bulus 1993

Bongkar. Sebuah lagu yang fenomenal. Disuarakan oleh grup Swami di album Swami I (1989). Lagu ini mampu menjadi mewakili realita kondisi sosial Indonesia dan menjadi simbol perlawanan rakyat kecil. Anthem yang tepat dipakai di banyak suasana negeri ini. Lagu ini bahkan menjadi peringkat teratas dalam 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone. Lagu lain di album yang sama, Bento, juga masuk dalam daftar tersebut.

Sejarah Lagu

Proses kreatif lagu ini dimulai oleh Iwan Fals yang menyodorkan lagu Bongkar di akhir sesi rekaman album Swami I. Iwan Fals yang saat itu tengah dirundung kecewa terhadap pemerintah karena tur Mata Dewa miliknya dicekal dan batal tampil di beberapa kota tanpa alasan yang jelas, menulis lirik awal lagu ini dengan sangat frontal. Sarat dengan kritik sosial dan begitu keras mengkritik pemerintah. Di versi awal lirik lagu ini, Iwan bahkan menyebut secara gamblang tempat-tempat yang merupakan lokasi kejahatan HAM berat seperti Way Jepara, Kedung Ombo, dan Kacapiring. Way Jepara adalah tempat terjadinya Peristiwa Talangsari 1989 di Lampung. SedangkanKasus Kedung Ombo adalah kasus kejadian penenggelaman paksa sebuah desa untuk kepentingan pembangunan waduk. Warga dipaksa untuk pindah dan menerima ganti rugi yang sangat sedikit. Dan Kasus Kacapiring terjadi di Bandung mengenai sengketa lahan. Anggota Swami yang lain merasa hal ini akan memberatkan dan menjadi masalah bagi album mereka. Akhirnya lagu ini disepakat Sawung Jabo akan merevisi dan menyusun ulang lagu ini. Dan inilah yang akhirnya kita kenal dalam lagu Bongkar sekarang. Lirik lagu memang agak berubah di penyajian, tapi visinya tetap. Liriknya lebih puitis tidak frontal seperti awalnya.

Lagu Bongkar direkam berkat bantuan dari Setiawan Djody, seorang pengusaha kapal tanker dan juga musisi. Saat itu Iwan Fals, Sawung Jabo, dan Setiawan Djody sedang memiliki proyek besar bertajuk Kantata Takwa bersama W.S Rendra dan Yockie Suryoprayogo. Di sela-sela latihan Kantata Takwa inilah proyek Swami terbentuk. Pada konser akbar Kantata Takwa di Stadion Utama Bung Karno pada 23 Juni 1990, lagu Bongkar ikut dimainkan oleh Kantata Takwa. Konser ini sendiri banyak dibicarakan sebagai konser paling akbar yang pernah digelar di Indonesia. Kedekatan Iwan Fals dengan Setiawan Djody memang memberikan dampak positif bagi Swami. Disaat perusahaan rekaman lain menolak materi album Swami karena dianggap terlalu keras, Airo Records milik Setiawan Djody menerima album tersebut. Lagu Bongkar sendiri direkam di Gin Studio pada Desember 1989.

Bongkar pertama kali diperdengarkan kepada publik pada 8 Februari 1990 di Topaz Cafe, Jalan Kuningan, Tomang bertepatan dengan acara launching album Swami. Cafe itu sendiri sudah hancur saat terjadi kerusuhan massa di tahun 1998. Bongkar dimainkan sebagai lagu terakhir setelah sebelumnya berturut-turut Swami memainkan Badut, Potret, Bento dan Perjalanan Waktu. Para personil yang tampil di Topaz Cafe adalah Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisisri. Yockie Suryoprayogo ikut bermain di lagu Bento, dan Setiawan Djody menyumbangkan kemampuan bergitarnya di lagu Perjalanan Waktu.

Tak hanya sampai disitu, Bongkar juga menjadi lagu soundtrack untuk film Kantata Takwa. Film ini disutradarai oleh Eros Djarot dan Gotot Prakosa dan dimulai pengerjaannya pada 1990. Namun karena kondisi politik yang tidak menentu, film ini akhirnya baru bisa dirilis pada tahun 2008.

Lirik Lagu, Musik dan Interpretasi

Intro lagu ini minimalis dengan hanya gitar akustik dan perkusi. Serta di tiap 2 bar (8 ketukan) terdengar bunyi tambourine dan genderang yang megah.

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang

Apa yang ingin disampaikan Iwan Fals dan Sawung Jabo dimulai dari dua bait ini. Penggunaan katacinta di bait awal memberikan banyak penafsiran. Cinta bisa diartikan sebagai kebijaksanaan, kemanusiaan, dan cinta itu sendiri. Dalam konteks kritik terhadap pemerintah, maka cinta akan diartikan sebagai kebijaksanaan. Ketika tidak ada lagi kebijaksanaan, keadilan tidak akan terwujud. Menariknya disini adalah siapakah yang mengharapkan keadilan akan datang? Penulis lirik memposisikan diri sebagai rakyat yang memandang ke arah pemerintah. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Musik semakin intens dengan suara genderang yang mengerang setiap 1 bar (4 ketukan). Semakin rapatnya suara genderang ini membuat emosi lagu ini lebih terbangun.

Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Bait ini masih melanjutkan apa yang termuat di bait sebelumnya. Kesedihan orang lain hanya menjadi tontonan tanpa ada rasa ingin membantu bagi mereka yang telah menghambakan diri pada jabatan. Demi mengamankan posisi dan jabatan, kemanusiaan dinomorsekiankan. Tak masalah orang lain menderita, asal mereka aman. Lirik diperkuda ini di beberapa repertoar ditulis sebagai diperbudak. Dari referensi blog Sawung Jabo, lirik yang benar adalah diperkuda.

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Di bagian ini terdengar suara Sawung Jabo sebagai backing vokal. Judul lagu termaktub dalam lirik ini. Kuat sekali bagian ini meskipun dari komposisi masih sama seperti bagian awal. Bongkar dalam bahasa indonesia sendiri diartikan mengeluarkan dan memasukan muatan atau mengganti secara paksa atau keseluruhan. Apa yang dibongkar? tentu saja pemerintahan yang korup dan tidak membela kepentingan rakyat.

Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima

Sabar dan tunggu hanya itulah jawaban yang diberikan oleh pemerintah. Disini sudut pandang yang digunakan semakin jelas dengan adanya kata kami yang menandakan sudut pandang orang pertama. Iwan Fals jelas menyuarakan masyarakat Kacapiring yang saat itu terkena kasus sengketa lahan. Kasus ini sempat dilaporkan oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Soni Harsono kepada Presiden Soeharto pada bulan April 1989. Presiden saat itu meminta warga agar tetap bersabar dan berupaya mematuhi putusan MA yang akan keluar. Namun putusan tersebut bekum keluar hingga jangka waktu yang cukup lama (nukilan beritanya baca disini). Terdapat suara keyboard yang menjadi bridging dan membedakan antara bagian sebelumnya dengan bagian ini.

Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Ajakan untuk turun ke jalan merobohkan pemerintahan korup. Lugas sekaligus puitis. Menyadari bahwa pertanyaan mereka hanya dijawab dengan sabar dan tunggu, mereka mengajak untuk turun ke jalan. Apa yang dimaksud dengan jalan di bagian ini? Apakah jalan politik? Saya rasa tidak, tetapi bukan juga berarti jalan secara lugas. Setan mewakili pemerintah. Berdiri mengangkang berarti setan tersebut merasa aman tidak akan ada yang dapat menyentuh sehingga bisa berdiri seenaknya.

Setelah Oh oh ya oh ya oh ya bongkar kembali dilantunkan, kemudian masuklah suara keyboard arpeggio. Dan masuklah lagu ini ke bagian chorus.

Penindasan serta kesewenang wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan

Dugaan saya, di bagian inilah terdapat penyebutan tempat seperti Way Jepara, Kedung Ombo, dan Kaca Piring di versi awal lirik yang ditulis Iwan Fals. Penindasan serta kesewenang-wenangan hanya dua dari banyak pelanggaran yang tidak bisa disebutkan semuanya. Teramat banyak bisa mengacu pada tempat bisa juga pada tindakan.

Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Seruan untuk menghentikan pelanggaran itu membuncah. Rakyat muak dengan ketidakpastian dan keserakahan yang semakin menjamur. Lengkingan suara Iwan Fals disaat meneriakkankeserakahan terasa menggelegar. Menurut saya, suara Iwan Fals saat itu sedang berada dalam puncaknya setelah album Mata Dewa dan memang sangat pas menyuarakan lagu yang bertema kritik sosial. Warna vokal Iwan Fals yang seperti ini adalah favorit saya, lebih jelasnya lagi seperti di lagu Air Mata Api.

Dijalanan kami sandarkan cita cita
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya

Lagi, kata jalanan disebutkan disini. Mereka menyandarkan cita-cita di jalanan. Cita-cita untuk memiliki negara dan pemerintahan yang bersih serta membela rakyat kecil. Rumah bisa dengan jelas diartikan sebagai gedung parlemen yang merupakan rumah para wakil rakyat. Disana tidak ada lagi yang bisa dipercaya karena mereka sudah menghamba pada jabatan.

Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Ini salah satu bagian yang menggelitik saya. Apakah orang tua adalah sebutan untuk Soeharto? Atau yang lebih luas lagi masa pemerintahan Orde Baru. Saat lagu ini dibuat, masa pemerintahan Orde Baru sudah berumur 24 tahun. Suatu periode pemerintahan yang cukup lama bagi seorang presiden. Penegasan bahwa lagu ini mewakili rakyat kembali terungkap dalam kata kami. Liriktolong kau jawab dengan cinta adalah ungkapan atas perilaku Orde Baru yang dikenal represif dalam meredam gejolak.

Teriakan O..oo.oo dari Iwan Fals menjadi bridge lagu ini menuju interlude. Interlude yang cukup panjang dan diisi dengan suara lead gitar sedikit distorsi. Setelah itu lagu berubah aransemen menjadi full band di sisa bagian. Bagian yang sebelum interlude hanya diisi dengan gitar akustik, kini diisi full band. Bassline tidak begitu dominan, namun mampu melengkapi dan memberi nyawa di bagian rhythm section. Saya sendiri kagum dengan aransemen drum di lagu ini. Ketukan-ketukan sedikit nyeleneh terdengar mengisi ruang ini. Tidak lantas membuat lagu ini menjadi susah dicerna, justru karena isian drum ini menjadikan lagu ini semakin kaya. Satu yang saya sayangkan adalah kenapa lagu ini harus berakhir dengan cara fade out.

Dulu, Kini dan Nanti

Lagu Bongkar diciptakan untuk mewakili kondisi sosial pada masa Orde Baru, namun sejatinya lagu ini bisa dan tetap relevan untuk segala jaman. Di masa kini, lagu ini masih relevan di banyak kondisi. Sebagai contoh ketika kasus Bank Century, Cicak vs Buaya, dan banyak kasus kelas tinggi lainnya, lagu Bongkar adalah lagu yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang ada di pikiran rakyat saat itu. Tak salah bila Rolling Stone Indonesia menobatkan lagu ini sebagai lagu Indonesia terbaik sepanjang masa. Kombinasi Iwan Fals dan Sawung Jabo, lirik yang menggugah semangat perlawanan rakyat kecil, popularitas lagu, dan juga simbol perlawanan kaum akar rumput rasanya lebih dari cukup untuk membuat lagu ini menjadi terbaik sepanjang masa.

Source: soundinary.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s