Mengulik Najwa Shihab

Sebagai jurnalis, Najwa biasa mengulik. Kali ini ialah yang diulik!

Sebagai wartawan, mungkin ia tak punya rasa takut. Tapi adakah ketakutannya dalam menghadapi hidup? ”Jujur saja, ketakutan saya cukup banyak. Takut ketinggian, takut…” ia terdiam beberapa saat, lalu melanjutkan, “Sebagai ibu bekerja, saya harus menyeimbangkan antara karier dengan rumah tangga—bagaimana menjadi ibu yang baik untuk anak saya. Bagaimana saya harus juggling sebagai ibu dan wartawan, sebagai istri dan public personality. Itu perjuangan yang terus-menerus. Kekhawatiran saya adalah bila saya tidak berhasil menjalani semua itu dengan baik.”

Beruntung ia menikahi pria yang sangat memahami profesinya. Menikah di usia 20 tahun dengan Ibrahim Assegaf, seniornya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia saat ia masih duduk di semester 3, hingga kini rumah tangganya jauh dari gosip.

“Tentu perkawinan kami ada up and down-nya. Suami kadang mengingatkan kalau saya sudah terlalu fokus pada pekerjaan. He is my rock! Dia yang tahu saya, dari orang yang tidak bisa ngapa-ngapain sampai sekarang punya talk show sendiri.” Selain itu, ayahnya, M. Quraish Shihab, merupakan pendukung terbesarnya. “Ayah saya itu kritikus nomor satu. Bahkan, setiap episode Mata Najwa selalu diberi nilai oleh Ayah, ha ha ha.…”

Anaknya, Izzat Ibrahim Assegaf, kini beranjak 15 tahun. Di usia remaja ini, pendekatan komunikasi yang dilakukan Nana berbeda dengan ketika anaknya masih kecil. Izzat juga kini mulai ‘menjauhi’ orang tuanya.

“Mungkin karena dia anak tunggal, dan saya feeling guilty karena sering meninggalkan dia, maka saya cenderung memanjakan Izzat. Tapi sekarang sudah lewat masa dia mau menghabiskan waktu dengan saya. Dia lebih suka berkumpul engan teman-temannya, dan mulai susah diajak pergi bersama. Dia itu penggemar Star Wars. Ternyata dia memilih nonton duluan dengan teman-temannya. Baru ketika nonton untuk kedua kalinya, dia mau menemani saya,” ungkap Nana, yang juga senang menonton film-film yang happy ending. “Hidup ini sudah rumit, masa harus nonton yang sedih-sedih…,” guraunya.

Adakah yang masih ingin ia capai dalam hidup? “Saya ini banyak maunya. Saya ingin Mata Najwa lebih banyak penontonnya. Saya ngin lebih sering ke daerah-daerah untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Saya juga ingin ikut mendidik dan membentuk jurnalis-jurnalis muda. Saya ingin menemukan cara agar bisa fokus pada hal-hal yang penting, khususnya untuk pribadi dan keluarga. Ingin sekolah lagi, mengambil S-3, dan… ingin punya anak lagi.”

Passion-nya selama ini adalah melakukan hal yang bersentuhan dengan publik. Karena itu, yang terpenting baginya adalah selalu bisa bertemu orang-orang, berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan. “Wartawan adalah profesi yang memungkinkan hal itu. Jadi, bukan pekerjaannya yang terpenting, tetapi apa yang bisa dilakukan dengan pekerjaan itu,” Najwa menegaskan. Maka, ia tak menutup kemungkinan jika suatu hari terjun ke dunia politik. “Tidak sekarang, karena saya masih terlalu cinta jurnalistik. Tapi siapa tahu? Politic, why not?

 

Oleh: Tenni Purwanti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s