Musik Bagus Saja Tidak Cukup

Musik Bagus Saja Tidak Cukup

Oleh: Marzuki Mohamad

Musik bagus saja tidak cukup, ada banyak turunan pekerjaan setelahnya agar musik yang kita produksi di studio bisa sampai ke pendengar yang dituju; mulai dari mengemas, mendistribusikan, promosi, hingga melayani penjualan dan monetizing atas musik yang kita produksi. Monetizing bisa macam-macam, mulai dari manggung, hak komersil, hinggaperformance rights. Umumnya musisi profesional membutuhkan record label untuk mengurusi semua pekerjaan itu.

Hingga satu dekade yang lalu, jika kamu hanyalah musisi daerah, “kamu harus pergi ke Jakarta” untuk meraih sukses; mengadu nasib, mengirim demo, mengemis kepada label untuk mendapatkan kontrak. “Kamu harus pergi ke Jakarta” karena semua TV yang siaran Nasional juga hanya ada di Jakarta. Jika kamu tinggal di Jogja, kamu disebut “musisi daerah”, maka kewajibanmu adalah berjuang ekstra keras untuk meraih mimpimu dibanding mereka yang tinggal di ibu kota.

Tapi itu dulu, sekarang jaman sudah berubah. Gelombang teknologi internet menciptakan kebudayaan baru, perilaku manusia berubah karenanya, paradigma bisnisnya pun berubah, termasuk industri musik. Perubahan jaman adalah kepastian yang tidak bisa ditolak. Peradaban itu dinamis, tidak statis, pilihannya hanya lentur atau meratapi jaman.

Di jaman digital setiap orang adalah publisher dengan berbagai platform sosial media yang ada. Dulu musisi harus berusah payah memasukkan video-klip agar bisa diputar di TV Nasional, sekarang setiap musisi bisa punya channel TV sendiri di internet. Dulu musisi harus mengirim demo ke radio-radio, sekarang setiap musisi bisa mempunyai radionya sendiri. Bahkan di era digital ini setiap musisi bisa menjadi distributor untuk karyanya sendiri.

Ketika tahun 2003 saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF), dengan segala pilihan uniknya yang bertolak belakang dengan logika industri dan pasar musik Indonesia, saya percaya betul bahwa internet adalah masa depan industri musik. Saya tidak peduli dengan media mainstream yang menolak lagu-lagu JHF karena alasan pasar, karena saya yakin ini adalah jaman di mana setiap orang bisa menciptakan pasarnya sendiri. Bahkan saya menaruh target sangat tinggi, bahwa JHF harus bisa tur USA, dan target itu terealisasi mulai tahun 2009, salah satunya berkat publishing internet.

Jarak dan batas terkikis, tembok-tembok runtuh. Satelah 2010, umumnya sebuah band/musisi sudah sangat sadar dengan kekuatan internet. Jarak antara musisi ibu kota dan daerah sudah bukan menjadi faktor pembeda yang signifikan. Di Yogyakarta, saat ini Endank Soekamti dengan Euforia Music Ecosystem-nya adalah contoh terdepan bagaimana memanfaatkan teknologi internet untuk publishing secara mandiri. Dengan pendekatan digital, band seperti ShaggyDog juga memiliki record label sendiri yang banyak dimanfaatkan oleh musisi-musisi pendatang baru. Menarik menunggu kiprah Sheila on 7 setelah kontrak mereka dengan Sony Music berakhir.

Sekali lagi, musik bagus saja tidak cukup, jika musikmu tidak cukup diterima oleh pasar, berarti kamu belum cukup bekerja keras. Jangan pernah menyalahkan pasar karena itu sia-sia, tapi ciptakanlah pasarmu sendiri dan rawatlah pasar itu agar tidak sekedar menjadi sensasi sesaat. Di internet, semua orang bisa seketika tekenal ke seluruh penjuru dunia selama 15 menit, untuk kemudian segera tergantikan dengan yang lain.

Selamat bekerja!

supermusic.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s