Rock itu Lebih Menarik kalau Mengancam

Oleh: Soleh Solihun

Namanya juga rock. Batu. Cadas. Keras. Ya harusnya memang memberi rasa tak nyaman. Makanya, musik rock itu lebih menarik kalau memberi ancaman. Baik itu lewat visual, maupun lewat audio.

Sejak jaman Elvis Presley, rock sudah memberi ancaman. Goyang pinggulnya dia dianggap meresahkan masyarakat, padahal kalau jaman sekarang mah, boro-boro dianggap vulgar. Lalu ketika The Rolling Stones baru muncul dan dianggap kebalikannya The Beatles yang baik-baik, publik merasa terancam dengan kehadiran mereka yang urakan. Lalu ada kisah Ozzy Osbourne dari Black Sabbath yang menggigit kelelawar ketika manggung. Secara naluriah, rock itu memang harusnya mengancam.

Saya bicara penampilan dulu ya, sebelum bicara soal musiknya.

Sex Pistols yang lusuh dengan baju compang-campingnya, lalu The Ramones yang “seragamnya” seperti sekelompok anak geng, atau Lemmy Kilmister dari Motorhead yang penampilannya saja sudah garang. Itu beberapa contoh betapa visual membuat musik mereka jadi lebih menarik. Semakin membuat risih masyarakat, maka rock semakin menarik. Kalau musisinya malah memberi rasa nyaman, jadinya membosankan seperti motivator.

Saya masih ingat ketika Burgerkill pertama kali merekrut Vicky sebagai vokalis pengganti almarhum Ivan Scumbag, menurut saya waktu itu sosok Vicky belum memberikan imej mengancam, beda dengan Ivan. Tapi belakangan, seiring berjalannya waktu, sosok Vicky sudah menunjukkan ancaman. Terlepas dari apakah dia di luar panggung, pria baik-baik, tapi ketika manggung dia terlihat seperti pria yang bakal ditolak calon mertua.

Dari Jakarta, pada masa jaya dan liarnya, The Brandals adalah sosok yang sangat mengancam. Mulut vokalis Eka Annash yang waktu itu masih tajam, lebih tajam dari mulut narrator infotainment, bisa membuat kuping guru ngaji dan mereka penganut moral sopan santun jadi risih sekali. Rajin memaki sambil menyebut alat kelamin. Meskipun pada akhirnya itu membuat mereka kena batunya [dicekal EO di Jakarta karena terkenal sering rusuh dan membuat alat di panggung jadi rusak], tapi harus diakui, periode itu adalah salah satu periode paling menarik dari The Brandals. Penuh dinamika. Haha.

Kalau dari sisi musik, secara karakter saja, rock seharusnya memang tak bisa diterima semua orang. Beda dengan pop yang manis dan mudah dicerna. Tak semua kuping bisa menerima dengan baik kehadiran musik rock. Itu sebabnya ketika Jamrud membuat “Surti Tejo”, membuat imej mereka semakin tidak keren di kalangan pecinta musik rock, meskipun membuat mereka semakin dikenal banyak orang.

Tak hanya dari sisi musik, dari sisi lirik pun, musik rock jauh lebih menarik ketika mengancam. Superman Is Dead ketika pertama kali mengeluarkan album di bawah Sony Music Indonesia, merilis single “Punk Hari Ini” yang mengritik perilaku musisi yang bisanya membawakan lagu orang saja dan kalangan mainstream yang mendadak menyukai segala yang berbau punk. Tak hanya lagunya, kini SID juga mengancam publik awam dengan penampilan mereka yang seperti preman: badan penuh tato, dan otot kekar.

Seringai, meskipun wajah vokalis Arian13 seperti pria baik-baik [kalau semua tato di badannya dihapus], tetap saja mengancam masyarakat dengan lagu-lagu mereka yang merayakan minuman keras, lirik yang protes, serta desain mereka yang pernah membuat aparat risih.

Tapi ya, ketika melakukannya, harus jujur. Kalau si musisi aslinya tak begitu, malah akan mencoreng namanya. Para personel Seringai, aslinya memang seperti apa yang mereka katakan lewat lagu: pecinta alkohol yang kritis terhadap lingkungan. Jadi, ketika mereka menyanyikan lagu soal minuman keras pun, jadinya sah. Jujur. Superman Is Dead, mereka tak hanya kritis di lirik. Sampai sekarang pun, mereka masih aktif melakukan aksi nyata: pungut sampah di pantai, bahkan demo dalam rangka menolak reklamasi Teluk Benoa.

Saya jadi ingat, pernah menonton sebuah band rock n’ roll dari Bandung yang tak usah disebutkan lah namanya. Ini waktu mereka masih dengan vokalis pertamanya, kira-kira tahun 2005. Manggung di Jakarta, dalam rangka launching album perdana. Sang vokalis, mungkin menganggap karena dia ada di band rock n’ roll, merasa harus urakan dan slenge’an di panggung. Berkali-kali menjatuhkan stand mikrofon di sela nyanyian, sempoyongan, mata tak terbuka lebar seakan-akan berat untuk dibuka. Tapi yang membuatnya jadi tak menarik, dia melakukan itu dengan sengaja. Matanya tak dibuka lebar, tapi sebenarnya terlihat jelas bahwa dia sebenarnya sadar total segar bugar. Akibatnya, sempoyongannya pun terlihat dibuat-buat. Maka, menjatuhkan stan mikrofon berkali-kali jadinya terlihat menggelikan.

Beberapa tahun kemudian, dia mengundurkan diri karena ingin mendalami agama. Bagus lah, kalau begitu, dia tak perlu lagi di panggung berpura-pura liar nakal brutal membuat semua orang menjadi gempar.

Ah maaf, jadi malah menggunjingkan orang.

Kembali ke soal mengancam, kalau bicara dari sisi jurnalistik, musisi atau band yang mengancam itu lebih menjual dibanding yang baik-baik saja. Itu sebabnya, manajer Rolling Stones yang pertama, Andrew Oldham memanfaatkan itu dengan baik. Salah satu headline di koran mengenai The Stones yang terkenal adalah yang berjudul “Would You Let Your Daughter Marry  a Rolling Stone?” atau “Apakah Anda Mau Mengijinkan Putri Anda Menikah dengan Personel Rolling Stones?”

Mengancam atau membuat orang tua resah adalah salah satu yang paling berat kadarnya. Orang tua, penguasa, atau golongan yang kolot, biasanya yang tak bisa menerima musik rock dengan segala hingar bingar bunyinya dan perilaku para musisinya. Makanya, ada ungkapan yang bilang, “If it’s too loud, then you’re too old.” Jadi, sodara-sodara, obat awet muda itu adalah musik rock. Lihat saja Lemmy, hingga akhir hayatnya masih terlihat berjiwa muda.

Makanya, paham ini sepertinya diikuti juga oleh Justin Bieber. Dalam rangka melepaskan diri dari bayang-bayang penyanyi cilik idola remaja wanita, Bieber kini bertato, badannya kekar, dan beberapa kali melakukan aksi yang meresahkan hingga diliput media.

Tapi ya tetap saja, musik dia tidak keras. Sampai kapanpun, senakal apapun, Justin Bieber mah tak akan mendapat perhatian dari pecinta musik rock.

Ah sial. Saya malah menulis nama itu di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s