Sulitnya Membiasakan Buang Sampah pada Tempatnya

Saya yakin, bila nasihat dan contoh untuk membuang sampah pada tempatnya ini terus menerus dicekoki ke kepala anak-anak yang masih kecil, maka efeknya bisa seperti cuci otak.

Pajero Sport putih itu tampak gagah dan kinclong. Mobil itu persis berada di depan mobil yang saya tumpangi dalam perjalanan menuju Bandung lewat tol Padaleunyi. Ketika saya dan suami sedang sibuk ngrasani mobil mahal yang menjadi idaman kami itu, tiba-tiba kaca jendela tengahnya diturunkan, lalu… pruuung… sebuah cup (mangkuk plastik) bekas tempat mi instan terlempar ke luar, ke jalanan. Tak sampai satu menit kemudian, pruuung… cup kedua ikut melayang ke luar jendela.

Suami saya secara spontan membunyikan klakson beberapa kali. Sementara saya sendiri, untuk sekian detik, terdiam bagai patung. Merasa tak percaya pada mata saya sendiri. Detik berikutnya, rasa kagum yang sebelumnya saya rasakan, mendadak berbalik 180 derajat. Kalau di film kartun, mungkin mirip adegan balon yang ikatannya dilepas, lalu meliuk-liuk dengan liar di udara sembari mengempis, sebelum akhirnya jatuh ke tanah, teronggok kisut.

Dan saya sungguh menyesal, mungkin akibat terlalu ‘terpesona’, karena saya tidak terpikir untuk langsung memotretnya. Dan ketika tersadar dan siap memotret (terutama nomor polisinya), mobil itu sudah keburu menyalip mobil di depannya. Mungkin pemiliknya merasa malu (mudah-mudahan) karena adegan buang sampah itu tertangkap basah oleh kami.

Peristiwa seperti itu—menjadikan jalanan, sungai, dan selokan sebagai tempat sampah besar dan gratis—mungkin sudah ribuan kali saya saksikan, nyaris seriap hari, tapi tetap saja sukses membuat saya geram luar biasa. Saya melihatnya di taman umum, di pinggiran jalan, di tempat wisata, di trotoar, di gang-gang kampung, di kereta, di sepanjang rel kereta, di angkot. Pokoknya, nyaris tidak ada tempat umum yang terbebas dari serakan sampah. Pelakunya mulai dari anak balita, remaja, ibu dan bapak muda, sampai kakek-nenek.

Tapi bila seseorang sudah sanggup membeli mobil sekelas Pajero Sport, pastinya dia berasal dari kalangan menengah ke atas, dong. Maka peristiwa itu sekali lagi membuktikan bahwa kemapanan ekonomi dan tingkat pendidikan yang cukup tinggi –biasanya dua hal itu berjalan seiring—tidak ada kaitannya dengan perilaku sehari-hari seseorang. Buktinya, perilaku sang pemilik Pajero Sport (dan keluarganya) itu tetap saja ndesit alias tidak tahu aturan.

Saya tak mau menyebutnya kampungan. Karena bagi saya, orang kampung atau orang desabahkan suku Badui di Banten atau warga Kampung Naga di Tasikmalaya yang dianggap terbelakang—justru lebih patuh pada aturan dan norma. Mereka jauh lebih menghargai alam, sehingga tidak dengan mudah membuang sampah seenaknya, karena sadar bahwa hal itu akan merusak lingkungan sekitar mereka.

Padahal, kalau dipikir-pikir, apa sih, susahnya buang sampah di tempat sampah? Kalaupun tak terlihat tempat sampah, apa susahnya menyimpannya sebentar sampai bertemu tempat sampah? Kalau orang dengan gampang menenteng makanan atau minuman, lantas mengapa menenteng bungkus bekas makanan atau kaleng/botol kosong minuman jadi terasa berat, merepotkan, dan menjijikkan, sehingga ia ingin cepat-cepat membuangnya, meskipun bukan di tempat sampah? Mengapa disiplin membuang sampah pada tempatnya tak kunjung membudaya dalam masyarakat kita, yang katanya sudah semakin modern ini?

Yang lebih aneh, suatu kali di stasiun kereta, saya bahkan pernah disebut usil dan kurang kerjaan oleh seorang pria muda yang kalau dilihat dari penampilannya sepertinya cukup berpendidikan. Ketika itu saya—dengan sopan—memintanya untuk memungut kembali bungkus plastik bekas baterai yang ia buang sembarangan ke lantai peron, untuk dimasukkan ke dalam tong sampah yang letaknya hanya satu meter dari tempat ia berdiri. Dan karena ia tetap membiarkan sampahnya tergeletak di lantai peron, saya pun dengan demonstratif memungut sampah itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah. Melihat itu, si pemuda bertampang intelektual itu pun beringsut pergi!

Mengapa masyarakat kita begitu sulit diajak berdisplin membuang sampah? Mungkin karenamembuang sampah sembarangan tidak secara langsung merugikan kita. Pemandangan jadi tak sedap karena banyak sampah berserakan? Ah, tutup mata saja! Kita baru merasakan akibatnya kalau selokan-selokan sudah mampet dan banjir pun datang. Tapi, banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia sesungguhnya ikut berkontibusi sebagai penyebab banjir.

Beda dari disiplin mengantre—yang sekarang sudah lumayan membaik dalam masyarakat kita. Kalau kita menyalip antrean saat mau membeli tiket kereta, misalnya, orang-orang yang mengantre di depan kita pasti akan marah-marah karena mereka merasa dirugikan. Tapi kalau kita membuang sampah di trotoar atau di sungai, tidak ada yang dirugikan secara langsung. Bahkan ada yang dengan cuek mengatakan, bukankah sudah ada petugas kebersihan yang dibayar oleh negara, dengan uang rakyat, untuk membersihkan sampah-sampah itu?

Tapi tentunya ini bukan urusan tukang sapu yang dibayar oleh negara. Ini masalah peradaban. Bahkan Nabi Muhammad pun menegaskan bahwa Allah sangat mencintai kebersihan. Lantas bagaimana caranya agar masyarakat kita mau menyadari—dari dalam dirinya sendiri—untuk  menjaga kebersihan lingkungannya dan berdisplin membuang sampah pada tempatnya?

Mau tak mau semua itu harus dimulai dari bangku sekolah. Dan saya yakin hal ini sudah bisa dimulai sejak anak masuk Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Jangan hanya menjejali murid dengan mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, olahraga, dan sebagainya. Tapi juga harus ada mata pelajaran formal (bagian dari kurikulum) tentang sopan santun dan menaati peraturan, termasuk peraturan membuang sampah pada tempatnya.

Tak ada salahnya seminggu sekali anak-anak itu diajak jalan-jalan ke luar sekolah sambil memunguti sampah-sampah yang berserakan di sepanjang perjalanan. Bersamaan dengan itu, mereka juga diimbau secara terus-menerus ikut menjadi ‘polisi’ bagi orang tua, kakak, teman, atau tetangga mereka bila membuang sampah sembarangan. Orang yang lebih tua biasanya akan malu kalau diberitahu hal yang baik oleh anak kecil.

Saya yakin, bila nasihat dan contoh untuk membuang sampah pada tempatnya ini terus-menerus dicekoki ke kepala anak-anak yang masih kecil, maka efeknya bisa seperti cuci otak, dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Tentunya asalkan orang yang mencekoki konsekuen dengan kata-katanya dan bisa memberi contoh yang baik bagi anak-anak itu. Dengan begitu, sebuah generasi baru akan terbentuk dan akan menjadi pelopor untuk generasi-generasi selanjutnya.

Penulis: Tina Savitri

pesona.co.id
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s